REFORMASI PENDIDIKAN

Bicara Reformasi Pendidikan, pada dasarnya adalah bicara memperbaharui " Kurikulum " dari bentuk " Substansi " ke bentuk " Sistem ", atau dari bentuk "Sistem " kebentuk " Sistem Bermasyarakat ".
Perubahan kurikulum, akan berpengaruh terhadap Sistem Pembelajaran dan Bahan Ajar, jadi jika terjadi pengembangan kurikulum ( substansi ke sistem ), maka harus diikuti pengembangan sistem pembelajaran dan pengembangan bahan ajar.
Perubahan kurikulum akan disertai perubahan bahan ajar dan secara otomatis disertai perubahan sistem pembelajaran, dengan demkian ada keterkaitan yang sangat erat signifikan antara perubahan kurikulum, pengembangan bahan ajar dan pengembangan sistem pembelajaran
Dengan demikian Sistem Pendidikan akan berubah dari bentuk " Substansi " ke bentuk " Sistem ". Dengan berubahnya kurikulum ( substansi ke sistem ) akan berubahlah Sistem Pendidikan, yang akhirnya terjadi " REFORMASI PENDIDIKAN " dari bentuk substansi ke sistem.



Kamis, 22 April 2010

SISTEM INSTRAKSIONAL


SISTEM INSTRUKTIONAL
Oleh : Ir. Nanang Hariyanto, MA. Guru Pertanian SMP Negeri I Prigen


Sistem Instructional, adalah suatu kondisi yang saling berkaitan satu komponen dengan komponen instructional pembelajaran didalam Proses Belajar Mengajar . Komponen-komponen tersebut adalah :
1. Isi yang terkait didalam Pelaksanaan Pembelajaran
2. Isi Standar Ketuntasan KTSP sesuai dengan ketentuan.

Bila ditinjau dari pelaksanaan pembelajaran, maka didalam proses belajar mengajar, seorang guru mentranfer pembelajaran kepada siswa dengan berpedoman komponen-komponen yang saling terkait didalamnya, dengan tujuan agar tujuan standar kompotensi tercapai, tujuan kompetensi dasar tercapai, dan tujuan instructional tercapai, sesuai dengan ketentuan stnadart ketuntasan KTSP ( 74,6 ). Pembelajaran dikatakan sukses apabila nilai dari siswa setelah proses belajar dari tes formatif > 74,6 yang berarti siswa telah tuntas didalam peguasaan materi pelajaran.

A. Instruktional :
1. Pelaksanaan Pembelajaran :
Diskripsi Mata Pelajaran :
Tujuan : Mengenal bagaimana perkembangan agribisnis di Indonesia, dan bergerak
dibidang apa saja.

Standar Kompetensi :
I. Siswa memahami tentang bagaimana perkembangan agrobisnis di Indonesia.

Kompetensi Dasar :
1. Siswa mempelajari perkembangan agrobisnis di Indonesia.

Proses Belajar Mengajar ( PBM ) :
Strategi Pembelajaran : Pendekatan Klasikal, Pendekatan Individual,Pendekatan Konsep dan Komunikasi, Pendekatan experimen.

Metode Pembelajaran : Belajar Aktif ( Tutor Sebaya ).

Model : Consepsentense
Tehnik Pembelajaran :
1. Guru menyampaikan kompetensi yang ingin dicapai.
2. Guru menyajikan materi secukupnya.
3. Guru membentuk kelompok yang anggotanya + 4 orang secaraheterogen.
4. Menyajikan beberapa kata kunci sesuai materi yang disajikan.
5. Tiap kelompok disuruh membuat beberapa kalimat dengan tujuanmenggunakan minimal
4 kata kunci setiap kalimat.
6. Hasil diskusi kelompok, didiskusikan lagi secara pleno yang dipandu guru.
7. Kesimpulan



Texbook :
Lembar Literatur
Kompetensi “ Pengantar Agrobisnis “
Penilaian :
Lembar Evaluasi , 5 soal uraian
Score : 20 / butir
Score Total ; 100
Target Ketuntasan :
X ( Rata-rata SKBM, KKM, TPK ) > 74,6
PAN, persentasi ( % ) , actual > 6,0

Pelaksanaan pembelajaran diawali dengan kegiatan :
Kegiatan Awal :
Kegiatan pendahuluan, mengapresiasikan ktrampilan membuka pelajaran, yang dimulai dengan doa dan salam, selanjutnya apersepsi keterkaitan materi pelajaran terdahulu. Kegiatan ini diperkirakan memakan waktu 10 menit ( 10’), kegiatan ini merupakan sesuatu yang sangat essensial didalam instructional, sebab bila 10 menit awal pelajaran ini salah mengarahkannya, maka akan berakibat salah seterusnya, tetapi bila 10 menit ini baik dan benar mengarahkannya, baik ditinjau dari kondisi siswa, materi pelajaran, sikap, dan kesiapan, maka akan terjadi kegiatan instructional yang benar.
Selain itu guru juga menentukan kelompok belajar yang terdiri dari + 4 siswa, dan memitivasi agar terbentuk komunitas belajar, dengan system tutor sebaya, tanpa ada yang dirugikan dan diuntungkan.
Alokasi waktu, 10 menit untuk kegiatan pendahuluan, 70 menit untuk kegiatan inti, dan 10 menit untuk kegiatan penutup. Kegiatan ini sangat penting sekali, ketepatan waktu dari tiap-tiap kegiatan akan memperlancar proses pembelajaran.
Kegiatan Inti :
Kegiatan ini berisi berbagai macam ketrampilan yang harus dikuasai guru didalam kegiatan pembelajaran, tetapi didalam model pembelajaran Lesson Study, guru tidak harus memfasilitasi siswa secara keseluruhan, guru hanya memberikan prosedur kerja, selanjutnya siswa yang aktif untuk menyelesaikan prosedur tersebut. Prosedur kerja diberikan oleh guru agar kegiatan pembelajaran terarah dan tidak melantur kemana-mana.
Dari 70 menit waktu yang diberikan untuk kegiatan inti, hampir seluruhnya untuk siswa, guru hanya melayani dan mefasilitasi prosedur kerja, dan apabila ada permasalahan yang dihadapi siswa. Guru boleh bertanya atau beraplikasi apabila terjadi kevakuman didalam kegiatan pembelajaran, agar siswa memahami persoalan yang dihadapi, dan selanjutnya guru mengevaluasi hasil diskusi siswa dengan tes formatif untuk melihat hasil belajarnya, dengan ketentuan ketuntasan target ketuntasan KTSP.
Kegiatan Penutup :
Kegiatan ini merupakan akhir pembelajaran, dimana guru memberikan kesimpulan dan meringkas pelajaran, selanjutnya ditutup dengan salam.

Standar ketuntasan KTSP, merupakan standar yang menentukan ketuntasan siswa didalam kegiatan pembelajaran. Apabila hasil tes formatif siswa > standar ketuntasan KTSP, maka siswa dikatan tuntas, apabila tidak maka perlu diremidi.
Standar ketuntasan ini, merupakan hasil rata-rata nilai SKBM ( Standar Ketuntasan Belajar Minimal ), KKM ( Kriteria Ketuntasan Minimal ), dan TPK ( Tingkat Penguasaan Kompetensi ), dari masig-masing indicator yang terdapat didalam materi pelajaran. Selanjutnya nilai standar ini dipakai sebagai standar ketuntasan belajar siswa dan keberhasilan guru didalam kegiatan pembelajaran.

B. Kondisi Instructional :
1. Fasilitator.

Guru sebagai fasilitator adalah membantu siswa yang kurang memahami materi pelajaran dan konsep-konsep pemahaman bahan ajar, serta membantu jalannya komunitas belajar baik secara individual atau kelompok belajar didalam kegiatan tutor sebaya. Pada dasarnya fungsi guru yang sebenarnya adalah pembantu, artinya membantu siswa untuk membangkitkan “ ranah kognitif “ yang ada didalam diri siswa pada khususnya dan “ ranah afektif serta ranah psikomotorik “ pada umumnya. Memang pada dasarnya didalam kegiatan pembelajaran porsi peningkatan intelektual siswa adalah sama, yaitu ranah kognitif, afektif dan psikomotorik, untuk menciptakan manusia yang cerdik pandai , beriman dan bertagwa, sesuai dengan tujuan penbdidikan nasional IPTEKS ( Ilmu Pengetahuan Tehnologi dan Kesenian ) dan IMTAQ ( Iman dan Taqwa ). Tetapi kenyataannya didalam kegiatan pembelajaran sebagian besar hanya ranah kognitif saja yang tersentuh, ini bahaya, sekali lagi ini bahaya, sebab menciptakan manusia yang cerdik pandai, tanpa didasari iman dan taqwa, akan berakibat fatal bila imannya tidak kuat nanti.
Sebagai harapan kepada guru BK ( Bimbingan Konseling ) lah harapan guru-guru agar anak dididik, dibimbing dengan dasar iman dan taqwa yang kuat agar menjadi manusia yang berbudu luhur, iman yang kuat dan selalu ingat kepada Alloh SWT bertawakkal didalam hidupnya. Sebab dengan bekal iman dan taqwa insya Alloh manusia akan selamat dunia akherat.
Kembali kepada fungsi fasilitator, guru harus jeli didalam pengawasan kegiatan pembelajaran, baik kepada siswa secara individual atau klasikal, sejak awal pembelajaran, pembagian tugas sampai selesai.
- Apabila ada siswa yang kondisinya merasa tertekan dari mimik raut mukanya, maka guru secepatnya membantu kekurang tahuannya, atau kondisi tekanannya.
- Apabila ada kelompok belajar yang yamai guru membantu mengatasi agar kondisi belajar menjadi aktif.
- Apabila ada siswa yang bertanya guru wajib menjelaskan sejelas-jelasnya sampai siswa dirasakan faham.
- Dll.
Dengan demikian suasana pembelajaran akan berjalan dengan baik, guru tak perlu menggurui, tak perlu menjelaskan sampai sedetil-detilnya, biar siswa yang mengembangkan cara berfikirnya, mengembangkan ranah kognitifnya untuk memahami materi sedalam-dalamnya.

2. Komunikator.
Komunikator guru sebagai pembicara didalam kelas didalam proses belajar mengajar. Agar kuminikasi bisa lancar searah, dua arah, ataupun banyak arah, maka :
1. Suara lemah dan lembut serta halus.
2. Suara harus dapat didengar oleh seluruh siswa didalam ruang kelas.
3. Suara harus jelas dan tegas.
4. Suara tidak perlu bertele, tetapi singkat dan jelas.
5. Pokok permasalah harus tersampaikan dengan jelas.
6. Diharapkan mendapat respon positif dari siswa.
7. Posisi berbicara sebaiknya pada keadaan yang dapat didengar oleh seluruh siswa.

Dengan mengambil formasi yang tepat maka proses komunikasi, baik searah, dua arah, ataupun banyak arah akan terlaksana dengan sebaik-baiknya, sehingga membantu jalannya kegiatan pembelajaran.


C. Setting Tempat Duduk :
1. Model Berbanjar .

2. ModelTapal Kuda
3. Model Huruf U.

Baik setting tempat duduk, posisi berbanjar, posisi tapal kuda, dan posisi huruf U, siswa berhadap-hadapan pada saat melakukan belajar kelompok ( tutor sebaya ), sesuai dengan kelompok belajarnya. Agar suasana belajar dapat hidup maka setiap kelompok belaja

Rabu, 14 April 2010

KEBIJAKAN YANG MEMPERDAYA


Sudah selayaknya seorang guru harus membuat perangkat pembelajaran dalam bentu sistem pembelajaran dan sistem instraksional dalam rangka mempersiapkan kegiatan pembelajaran. Tentunya tidak semudah apa yang dikata, tetapi harus proporsional dan sangat erat sekali dengan kondisi materi pelajaran, dari tingkat essnsial, kerumitan dan kemampuan siswa. Dengan melihat kondisional materi pelajaran guru dapat membuat perangkat dengan sebenar-benarnya.
Semua kegiatan ini adalah wewenang mutlak guru sebagai pemegang mata pelajaran, kebijakan yang harus dapat dipertanggung jawabkan, dan sangat signifikan dengan keberhasilan mutu hasil anak didik baik secara keilmuan, moral dan sosial masyarakat sebagai bekal kehidupannya.

Didalam kegiatan pembelajaran terjadi proses pertemuan antara konsep-konsep materi pelajaran, konsep-konsep yang terkandung didalam tujuan pembelajaran dan konsep pemikiran siswa sebagai pebelajar. Diantara ketiga konsep itu guru sebagai figur sentral yang menjembatani pertemuannya dengan tujuan agar proses belajar mengajar mencapai target sesuai dengan ketentuan dan belajar optimal. Oleh karena itu diperlukan suatu kebijakan yang benar didalam pemilihan komponen-komponen pembelajaran, baik sistem pembelajaran dan sistem instraksionalnya, agar guru tidak terpedaya oleh kebijakan yang telah dibuatnya sendiri. Seolah-olah benar dan dapat diapresiasikan dengan benar didalam kegiatan pembelajaran, tetapi sebenarnya tidak mengena sama sekali terhadap fungsi pemahaman siswa didalam menangkap stimulus yang diberikan guru kepada siswa. Sebenarnya kita terpedaya oleh kebijakan kita sendiri, yang ternyata tidak dapat menjembatani konsep ilmiah materi pelajaran, tujuan pembelajaran dan konsepsi siswa, betapa naifnya pekerjaan yang sia-sia.

Kegiatan MGMP ( Musyawarah Guru Mata Pelajaran ) adalah sangat mutlak diperlukan, dengan musyawarah dari beberapa guru mata pelajaran didalam membuat kebijakan perangkat yang dapat dijadikan jembatan yang sangat baik dan benar untuk ketiga konsep yang terkandung didalam materi pelajaran, tujuan pembelajaran dan konsepsi siswa, maka akan membantu memperlancar jalannya proses kegiatan pembelajaran dan kepiawaian guru dalam mengajar.

Pertimbangan Kebijakan Dalam Kegiatan Pembelajaran :
1. Memahami karakteristik siswa dari aspek fisik, sosial, moral, emosional, kultural dan intelektual.
2. Memahami teori-teori dan prinsip-prinsip pembelajaran yang mendidik.
3. Memahami keterkaitan antara perangkat pembelajaran, khususnya strategi dan pendekatan, metode dan model harus disesuaikan dengan kondisi materi pelajaran dan kemampuan siswa.
4. Memahami berapa Komponen Dasar ( KD ) dalam satu kali tatap muka, agar tercapai target ketentuan ketuntasan belajar.
5. Memahami berapa kali sebaiknya Ulangan Harian ( UH ) dalam satu semester dan bagaimana bentuk tes formatif setelah kegiatan tatap muka harus dibuat sebaik mungkin untuk mengetahui hasil belajar siswa.
6. Memahami kondisi ruangan sebagai tempat pembelajaran didalam menentukan keberhasilan pembelajaran.

Dengan mengacu kepada keenam point diatas, guru dapat memilih strategi pendekatan apa yang dipakai didalam kegiatan pembelajaran. Selanjutnya metode apa yang sebaiknya dipakai, ceramah atau belajar aktif, serta model pembelajaran apa yang paling tepat.

Akibat Kesalahan Mengambil Kebijakan Dalam Kegiatan Pembelajaran :
1. Kegiatan pembelajaran terjadi tetapi tujuan dan target ketuntasan tidak tercapai optimal.
2. Kemungkinan besar akan salah memotifasi dan memberi penguatan yang berakibat fatal bagi prestasi belajar siswa.
3. Siswa tidak dapat memahami secara optimal penjelasan yang dilakukan oleh guru mata pelajaran.
4. Kegiatan pembelajaran telah memperdaya kita, seolah-olah sudah benar tetapi malah berakibat kerancuan konsep yang tertanam kedalam siswa.

Kebijakan didalam membuat perangkat pembelajaran yang tepat sangat diperlukan, kebijakan yang salah akan memperdaya kita sebagai guru mata pelajaran, dan akhirnya kita semua rugi, baik siswa, lembaga dan kelangsungan hidupnya.

MEMBANGUN KOGNITIF, AFEKTIF, DAN PSIKOMOTORIK DENGAN DIAM


Diam itu sendu, diam itu menarik, dan diam itu lebih baik. Itulah arti diam yang sering didendangkan orang didalam alunan senja kehidupan dan perjalanan sang insan. Tetapi yang dimaksud disinibukan diam sembarang diam seperti diamnya alunan senja kehidupan, tetapi diam yang membangun, diam yang memotifikasi, diam yang memberi penguatan, kepada siswa anak didik didalam kegiatan pembelajaran.
Kalau kita lihat lautan, kalau kita lihat rembulan, kalau kita lihat matahari semua diam, tetapi didalam lubuk hati yang paling dalam timbul sejuta pertanyaan, bahkan berjuta-juta pertanyaan akan diamnya lautan, rembulan dan matahari. Begitu juga yang diharapkan didalam kegiatan pembelajaran, dengan diamnya guru diharapkan timbul berbagai pertanyaan dari anak didik akan ketidak tahuan, akan sejuta misteri yang ada didalam hati mereka, ketika melihat, mengamati, dan mempelajari materi pelajaran yang dikemas didalam LKS ( Lembar Kerja Siswa ).
Guru cukup memberikan stimulus materi pelajaran yang merupakan kunci pokok materi berupa judul materi pelajaran, pokok bahasan ( Standar kompetensi ) dan sub pokok bahasan ( Kompetensi Dasar ) yang tercantum didalam pembahasan materi pelajaran, selanjutnya siswa dianjurkan untuk belajar sendiri terhadap konsep-konsep yang ada didalam pembahasan materi pelajaran, sesuai dengan kemampuan lognitif, afektif dan psikomotorik masing-masing siswa.

Hal-hal yang perlu diperhatikan saat diam :
1. Guru harus jeli didalam memberikan kata kunci yang berupa pokok bahasan ( Standar Kompetensi ) dan sub pokok bahasan ( Kompetensi Dasar ) didalam membahas materi
pelajaran.
2. Guru harus jeli memperhatikan kegiatan siswa, mulai dari mimik raut muka, anggota badan mereka dengan benda-benda sekitarnya.
3. Guru harus jeli memperhatikan kelompok belajar mereka yang terdiri dari 4 ( empat ) orang siswa, apakah terjadi kegiatan pembelajaran atau tidak.
4. Guru harus pandai-pandai memperlihatkan sikap yang membantu siswa untuk belajar.
5. Guru harus dapat mengawasi semua siswa didalam kelas dengan menempatkan posisi berdiri didepan kelas yang benar.
6. Guru harus mempunyai wawasan yang luas terhadap materi pelajaran, baik pengembangan pokok bahasan ( Standar Kompetensi ), pengembangan Sub pokok bahasan ( Kompetensi Dasar ) dan pengembangan Indikator.

Hal-hal yang perlu diperhatikan :
1. Guru harus dapat menjelaskan sejelas-jelasnya setiap pertanyaan yang diajukan oleh siswa, dan mengulang kembali apabila siswa belum jelas.
2. Guru harus dapat membantu apabila ada siswa yang bengong, atau memainkan benda-benda disekitar pada saat terjadi kegiatan pembelajaran didalam kelompok belajarnya ( tutor sebaya ), dengan cara memberikan beberapa pertanyaan yang menyangkut materi pelajaran atau kondisi belajarnya agar dapat belajar dengan temannya.
3. Guru harus menegur apabila ada siswa yang membuat gaduh atau keributan didalam kelompok belajarnya, selanjutnya dianjurkan untuk belajar dan terjadi kegiatan belajar kelompok.
4. Guru harus dapat membantu agar terjadi kegiatan pembelajaran didalam kelompok belajar mereka, dengan jalan memberikan tugas atau kegiatan lainnya.
5. Guru harus memperlihatkan sikap profesional didalam memberikan penjelasan didepan kelas, tegas, lugas dan tepat.

Kondisi saat diam :
Tentunya terjadi sesuatu yang sangat aneh dan mengherankan apabila ada guru yang diam membisu saat kegiatan pembelajaran, seharusnya guru memberikan ceramah yang berupa penjelasan-penjelasan yang kongkrit kondisi pembelajaran. Memang aneh tapi saat terjadi suasana " kebengongan " guru cuma memberikan pertanyaan yang santun kepada siswa " coba pelajari dan yang sulit ditanyakan ".
Saya kira itu sudah merupakan penguatan motivasi yang sangat diperlukan murid untuk belajar, dan membangkitkan semangat belajar mereka. Sehingga selanjutnya siswa tergugah untuk belajar dengan menunjukkan beberapa perubahan sikap belajar mereka. Artinya kita telah menggugah, membangkitkan kognitif, afektif dan psikomotorik mereka untuk mempelajari materi pelajaran yang dibahas didalam kegiatan pembelajaran.

Hal ini ditunjukkan :
1. Siswa mulai bertanya dengan beberapa pertanyaan materi pelajaran.
2. Siswa mulai bertanya dan belajar dengan teman sekelompoknya.
3. Mulai ada perubahan didalam kelompok belajarnya.

Selanjutnya biarkan mereka belajar didalam kelompok belajarnya dengan kemampuan kognitif, afektif dan psikomotorik mereka, selanjutnya diadakan evaluasi belajar mereka dengan mengadakan diskusi bersama dengan guru mata pelajaran. Didalam diskusi bersama ini guru harus jeli dan pandai terhadap siswa-siswa yang pandai, sangat pandai dan rendah, selanjutnya bagaimana guru dapat membantu siswa yang rendah menjadi pandai, siswa yang pandai menjadi sangat pandai dan yang sangat pandai tetap bertahan diposisinya.
Saya kira dengan kesiapan yang telah dipunyai guru sebagai guru pengajar, guru dapat membantu dan menciptakan suasana belajar yang baik, sehingga terjadi baik pembelajaran tutor sebaya ( siswa dengan siswa ) dan peer teaching ( guru dengan siswa ) baik dengan satu arah, dua arah dan banyak arah.
Saya kira dengan trik-trik yang dipunyai guru didalam diamnya, guru dapat membangun, menggugah dan membangkitkan kognitif, afektif dan psikomotorik mereka untuk belajar dengan baik. Diam dalam arti bukan menggurui, tetapi mencoba membangkitkan kognitif, afektif dan psikomotorik anak didik, baik melalui :
1. Keberanian mereka untuk bertanya.
2. Tidak takut untuk salah, sebab ada kesadaran bahwa guru akan membangun untuk membenarkannya.

Dengan demikian semoga kita semua guru-guru yang mempunyai tanggung jawab yang besar terhadap perkembangan anak didik dan masa depan mereka dapat membangkitkan semangat belajar mereka.

Rabu, 31 Maret 2010

APAKAH ANDA SIAP MENGAJAR.



Siap mengajar dalam arti siap seluruh perangkat dan sarana pembelajaran dan siap untuk melaksanakan kegiatan pembelajaran. Menurut Yamamoto :" kegiatan pembelajaran akan optimal apabila ada keaktifan kedua pihak guru dan siswa, guru siap untuk mengajar dan siswa siap untuk belajar, apabila salah satu atau dua-duanya tidak aktif dalam arti tidak siap maka pembelajaran akan gagal ".

Perencanaan:
Perencanaan yang matang dan tepat didalam kegiatan pembelajaran, biasanya dilakukan diawal semester, dimana guru wajib menentukan langkah-langkah kegiatan pembelajaran secara tepat.

Metode :
Metode yang dipakai didalam kegiatan pembelajaran tergantung kepada :
1. Tingkat essensial materi pelajaran.
artinya materi pelajaran sangat bermakna untuk pembekalan kecakapan hidup, bermakna dan bermanfaat untuk mencapai indikator lain, dan mampu mewakili indikator lain. Materi ini dikatakan sangat essensial.
2. Tingkat Kesulitan dan Kerumitan materi pelajaran.
artinya untuk memahami kompetensi memerlukan waktu yang lama, perlu penalaran dan kecermatan yang tinggi, dituntut adanya sarana dan prasarana agar kompetensi dicapai siswa.
3. Tingkat kemampuan rata-rata siswa.
tingkat kemampuan siswa berdasar atas seleksi ujian awal, atau tingkat prestasi siswa pada semester atau kelas sebelumnya.

Dari ketiga kriteria tersebut, dapat ditentukan metode apakah yang dipakai didalam kegiatan pembelajaran, metode ceramah, atau metode bebas aktif dalam arti siswa belajar sendiri secara kelompok.
Aapabila metode yang ditentukan adalah ceramah, maka guru harus pandai-pandai menampilkan beberapa ketrampilan khusus, seperti ketrampilan menjelaskan, ketrampilan bertanya, ketrampilan reinforse, dll., sedangkan apabila metode yang dipilaih bebas aktif, maka guru harus pandai memfasilitasi siswa didalam peer teaching, tutor sebaya, dan komunitas belajar.

Strategi Pembelajaran :
Strategi Pembelajaran Harus memenuhi dua opsi :
1. Observable.
Pendekatan yang dipakai harus benar-benar sudah teruji keampuhannya dan kematangannya didalam kegiatan pembelajaran. Pengujian bukan hanya satu atau duakali tetapi berkali-kali untuk mengetahui kevalitan dan hasil yang memuaskan.
2. Measureble.
Pendekatan yang dipakai harus dapat memperhitungkan dengan akurat, matang dan tepat, efektif dan efisian untuk mengetahui prestasi siswa secara benar. Dengan demikian guru dapat mengetahui mana siswa rendah, siswa pandai dan siswa sangat pandai.

Strategi pembelajaran tersusun rapi didalam sistem pembelajaran dan sistem instraksional, selain motivasi dan penguatan yang dilakukan guru pengajar. Strategi Pembelajaran tersusun rapi mulai dari program tahunan ( prota ), program semester ( promes ), alokasi waktu, rencana pelaksanaan pembelajaran, pelaksanaan pembelajaran, standar ketuntasan KTSP, tes diagnostik, analisis dan evaluasi.
Untuk metode ceramah : tersusun didalam Mekanisme Pembelajaran Kompetensi, dimana basis yang dipakai adalah basis kompetensi. Sedangkan untuk metode bebas aktif, tersusun didalam Tehnologi Pembelajaran Kompetensi, dimana basis yang dipakai adalah Lesson Study.

Motivasi dan Penguatan :
Motivasi dan penguatan adalah wujud dari pendekatan guru dalam hal :
1. Belajar Siswa.
- Siswa dianjurkan belajar kelompok dengan dibentuknya kelompok belajar.
- Motivasi tidak adanya kerugian belajar kelompok baik bagi yang pandai ataupun yang rendah.
- Motivasi dengan belajar kelompok masalah yang sulit akan terpecahkan.
- Motivasi bersatu kita teguh bercerai kita jatuh. dll.

2. Hubungan guru murid.
- Hubungan sosial yang baik, kasih sayang, tulus, ikhlas.
- Menjadi tauladan yang baik dalam sikap, intektual dan kerapian.
- Menjadi pemimpin yang baik baik didalam kelas ataupun diluar kelas.dll.

3. Keberhasilan Belajar.
- Memberi hadiah bagi yang berprestasi.
- Menunjukkan nilai hasil belajar. dll

Model Pembelajaran :
Model pembelajaran khusus untuk kegiatan Lesson Study atau metode bebas aktif.

Apabila ditinjau dari pemilihan metode, perlengkapan strategi pembelajaran, dan model pembelajaran yang tepat, maka anda sudah dapat dikatakan siap untuk mengajar, tetapi apabila sebaliknya, anda belum membuat prota, promes, Rencana Pelaksanaan Pembelajaran, Standar Ketuntasan KTSP, Tes Diagnostik, Analisis, dan Evaluasi apa yang dipakai, maka anda dapat dikatakan belum siap mengajar, yang berarti pembelajaran tidak optimal.
Oleh karena itu agar anda siap mengajar, anda harus sudah menyiapkan, baik perencanaan metode pembelajaran, strategi pembelajaran dan model pembelajaran, sehingga anda benar-benar siap untuk mengajar.

NB:
1. Gambar 1. Dokumen Opersional Mekanisme Pembelajaran Kompetensi.
2. Gambar 2. Dokumen Operasional Tehnologi Pembelajaran Kompetensi.

Senin, 29 Maret 2010

JANGAN LALAIKAN DO'A



Setiap akan melakukan aktifitas apapun selalu dan memang harus didahului dengan do'a. Karena hanya dengan kuasaNya dan rahmatNya kita semua dapat menjalankan aktifitas kegiatan tersebut. Tak luput pula dilembaga pendidikan, setiap memulaui kegiatan pembelajaran disertai doa dan salam, diakhir pembelajaran disertai doa dan salam.Kegiatan yang berupa do'a dan salam dilakukan didalam kegiatan awal, yaitu doa'a. salam dan apersepsi, dan kegiatan akhir ( penutup ).
Doa dan salam sering dan memang kebanyakan seolah-olah lepas dari kegiatan pembelajaran, dan inilah yang sering dilalaikan seorang guru, padahal do'a dan salam adalah momen yang paling penting dan essensial didalam kegiatan proses belajar mengajar. Pernahkan saudara membayangkan bahwa doa dan salam adalah bagian yang penting dari kegiatan pembelajaran ?
Pada saat dikumandangkan doa awal pembelajaran, disitulah terjadi suatu peristiwa yang sangat besar, sebab disaat itulah kita sebenarnya beraudensi, bertatap muka, berharap atas ridhoNya, kepada Yang Maha Kuasa Yang Maha Pandai Yang Maha Penyayang. Didalam hati yang paling dalam ada tetes air mata, betapa tidak bagaimana kalau Tuhan Yang Maha Kuasa tidak memberikan kasih sayangNya, IlmuNya kepada kita sebagai seorang guru, untuk melakukan kegiatan tranfer learning kepada siswa. Kita jadi buta, kita tidak bisa apa, sehingga kegiatan pembelajaran hanyalah sebuah kegiatan basabasi saja. Alangkah ruginya kita, betapa kasihannya murid, siswa kita, anak didik kita yang mengharap.
Pada saat doa itulah, hati kita yang paling dalam, memohon kepada Sang Khalik, agar dibuka pintu hati kita, pintu kognitif kita, pintu afektif kita, dan pintu psikomotorik kita agar stimulus yang kita berikan kepada siswa mendapat respon yang baik. Begitu juga didalam hati kecil kita mengharap agar siswa, anak didik dibuka hatinya, dibuka kognitif, afektif, dan psikomotoriknya agar dapat menerima stimulus yang kita berikan. Betapa bahagianya bila do'a kita dari hati yang paling dalam dikabulkan, sebab dengan dikabulkannya doa'a kita pasti kegiatan tranfer learning akan berjalan dengan baik, dan proses belajar mengajar akan mencapai optimal dan target pembelajaran tercapai.
Marilah kita sadarkan diri kita, diri siswa anak didik kita, agar selalu ingat kepada Sang Khalik, agar didalam menjalankan kegiatan pembelajaran baik secara institusional atau insidental mendapat restu dan ridhoNya. Amin.
Pada saat mengucapkan salam, disitu juga terjadi suatu peristiwa besar yang tidak kita sadari, peristiwa dimana " siswa memberikan keselamatan kepada guru, dan guru membalas memberikan keselamatan kepada siswa " semoga keselamatan tercuruh kepada guru atau siswa. Keselamatan dalam arti pikiran kita tidak terjadi kesalahan, sehingga apa yang kita berikan dapat benar dan mudah dipahami, ucapan kita benar dan mudah untuk diucapkan, sikap kita benar sehingga menyenangkan, semua butuh keselamatan, sehingga dengan demikian kita terhindarkan dari kesalahpahaman, kemacetan, dan kesalah artian yang menyebabkan kita celaka. Celakalah bagi orang-orang yang tidak mendapat keselamatan.
Mudah-mudahan kita selalu didalam lindunganNya dan keselamatan ada pada diri kita dan anak didik didik kita semua.

Kamis, 25 Maret 2010

Jagalah Aktifitas Pembelajaran Dengan sabar

Kesabaran, ketulusan, dan keikhlasan adalah tonggak yang paling berperanan agar kegiatan pembelajaran berhasil, selain sistem pembelajaran dan sistem instraktional. Tetapi sekali lagi dengan kesabaran, keikhlasan dan ketulusan dari hati yang paling dalam maka kegiatan pembelajaran akan berhasil.

Dua Peluang :
1. Menahan emosi ( sabar ) dan aktif dalam arti mencari pemecahan agar tercapai proses belajar mengajar yang menyenangkan, kegiatan pembelajaran akan menyenangkan.
2. Menahan emosi ( sabar ) dan pasif dalam arti tidak mencari pemecahan agar tercapai kegiatan yang menyenangkan, maka akan berakibat kejenuhan atau kebosanan.

Strategi Pembelajaran :
Strategi pembelajaran merupakan aktualisasi dari seluruh aktifitas guru dalam rangka mewujudkan kegiatan pembelajaran yang efektif dan efisien. Efektiftifitas strategi dapat diukur dari tingginya kuantitas dan kualitas hasil belajar yang dicapai anak. Efisien dalam arti penggunaan strategi yang dimaksud berhubungan dengan waktu, fasilitas atau kemampuan yang ada.
Tiap-tiap guru mempunyai cara pandang yang berbeda, dalam arti wawasan teoritik yang dipahami guru tentang hakekat pembelajaran. Oleh karena itu, akan mengakibatkan terjadinya cara pandang yang berbeda, yang mengakibatkan terjadinya perbedaan pendekatan pembelajaran yang dilaksanakan. Sebaliknya kesamaan wawasan guru tentang hakekat pembelajaran akan berimbas kepada kesamaan pendekatan yang digunakan.

Syarat-syarat Pemilihan StrategiPembelajaran:

1. Strategi pembelajaran harus disesuaikan dengan tujuan yang akan dicapai.
2. Strategi pembelajaran harus sesuai dengan karakteristik bahan pembelajaran.
3. Strategi pembelajaran harus sesuai karakteristik guru pengajar.
4. Strategi pembelajaran harus sesuai dengan karakteristik siswa.
5. Strategi pembelajaran harus sesuai dengan karakteristik sarana dan prasarana yang tersedia.

Hal-hal Didalam Pemilihan Strategi Pembelajaran :
1. Dapat memotifasi dan menarik siswa
2. Meningkatkan partisipasi anak.
3. Meningkatkan kemandirian anak.
4. Meningkatkan ketentraman belajar anak.
5. Meningkatkan disiplin dan ketertipan kelas.
6. Menjalin hubungan interpersonal anggota kelas.

Macam-macam Strategi Pembelajaran :
1. Pendekatan Sistem : untuk mengorganisasikan dan mengembangkan komponen-komponen satuan pelajaran.
2. Pendekatan Behavioristik : untuk perumusan tujuan pembelajaran, bersifat observable dan measurable.
3. Pendekatan Kognitif, Pendekatan Afektif, Pendekatan Psikomotorik dan Pendekatan Campuran : untuk tujuan pembelajaran yang hendak dicapai.
4. Pendekatan Belajar Aktif, Pendekatan Reseptif, Pendekatan Proses : untuk tujuan tercapai belajar siswa dari sudut pandang belajar.
5. Pendekatan Humanistik, Pendekatan Otokratis, Pendekatan Demokratis, Pendekatan Faire : dari sudut pandang hubungan siswa dan guru.
6. Pendekatan Konsep, Pendekatan Tematik, Pendekatan Unit, Pendekatan Integratik : dari sudut bahan belajar.
7. Pendekatan Pragmatik, Pendekatan Komunikatif : dari sudut orinsip kebermaknaan hasil belajar.
8. Pendekatan Klasikal, Pendekatan Individual, Pendekatan Kelompok : dari sudut pengelolaan siswa didalam belajar.

Didalam proses belajar mengajar akan terdapat banyak pendekatan yang dilakukan, bahkan masing-masing bidang study , memiliki karakteristik pendekatan pembelajaran yang spesifik pula. Oleh karena itu didalam pembelajaran bidang study tertentu, akan terdapat beberapa pendekatan yang dilakukan secara serempak, hal ini mengingat setiap pembelajaran didalam standar kompetensi terdiri atas beberapa komponen pembelajaran atau kompetensi dasar pembelajaran, dan masing-masing kompetensi dasar pembelajaran terdiri dari beberapa aspek atau indikator. Kerempakan pendekatan pembelajaran ini dikarenakan masing-masing aspek atau indikator mempunyai pendekatan yang berbeda-beda, sehingga didalam standar kompetensi pembelajaran dilakukan pendekatan pembelajaran yang serempak agar tujuan pembelajaran tercapai, dan target optimal.

Rabu, 17 Maret 2010

MENGULANG ATAU MELANJUTKAN


Rasanya memang terlalu sulit untuk menentukan kesuksesan guru dalam menyampaikan materi pelajaran ( tranfer learning ), apalagi kalau didalam satu kali tatap muka tidak ada tes formatif sebagai standar ketentuan ketuntasan mengajar atau kesuksesan guru didalam tranfer learning.
Saya masih ingat kata-kata Prof. Masaaki Sato, :" guru harus bisa mengambil sikap yang cepat didalam pembelajaran, mengulang atau melanjutkan ", ini dilatih didalam DO-SEE, selanjutnya " guru harus belajar dua hal, yaitu bagaimana caranya melanjutkan pembelajaran, dan berikutnya bagaimana pemahaman terhadap siswa ", ini dipahami didalam SEE.

Mengulang :
Mengulang artinya pembelajaran kurang tuntas, ini dapat dilihat dari hasil tes formatif atau tanya jawab dimana nilai yang dihasilkan masih dibawah ketentuan standar KTSP. Tentunya kalau kita mengulang perlu adanya perubahan daik didalam strategi pembelajaran, metode pembelajaran atau model pembelajaran, guru harus pandai-pandai memilih unsur-unsur tersebut agar kegiatan pembelajaran dapat sukses.

Melanjutkan :
Melanjutkan berarti pembelajaran sukses dan tuntas,tetapi gurupun harus pandai-pandai juga apakah sistem pembelajaran yang kita gunakan sudah baik atau belum, apa perlu dirubah atau tidak itu tergantung kepada guru sebagai pemegang wewenang tertinggi didalam kegiatan pembelajaran. Jelasnya dengan strategi pembelajaran, metode pembelajaran dan model pembelajaran yang digunakan harus berimbas agar siswa dapat memahami materi pelajaran dan guru dapat mencapai target tujuan pembelajaran.

Bagaimana Siswa Paham :
Bagaimana siswa paham adalah sesuatu yang sangat sulit, sebab dalam hal ini guru harus memperhitungkan bagaimana kondisi pada saat kegiatan awal, apersepsi, kegiatan inti dan penutup. Ketiga kegiatan ini harus bisa mengoptimalkan strategi pembelajaran yang dipakai, sehingga hasil pemnbelajaran optimal.
Penguasaan emosional guru harus maksimal, sebab beragam siswa juga terjadi beragam karakter yang dapat menyebabkan berbagai macam kondisi, kadang menyenangkan, kadang menyebalkan, bahkan membuat kita marah.

Saya kira dengan strategi, metode dan model pembelajaran yang sudah tersedia, akan membantu guru didalam kegiatan instraksional, sehingga tranfer learning dapat berjalan dengan baik, sempurna dan lancar, serta hasil yang memuaskan. Semoga semuanya dapat berjalan dengan lancar.