REFORMASI PENDIDIKAN

Bicara Reformasi Pendidikan, pada dasarnya adalah bicara memperbaharui " Kurikulum " dari bentuk " Substansi " ke bentuk " Sistem ", atau dari bentuk "Sistem " kebentuk " Sistem Bermasyarakat ".
Perubahan kurikulum, akan berpengaruh terhadap Sistem Pembelajaran dan Bahan Ajar, jadi jika terjadi pengembangan kurikulum ( substansi ke sistem ), maka harus diikuti pengembangan sistem pembelajaran dan pengembangan bahan ajar.
Perubahan kurikulum akan disertai perubahan bahan ajar dan secara otomatis disertai perubahan sistem pembelajaran, dengan demkian ada keterkaitan yang sangat erat signifikan antara perubahan kurikulum, pengembangan bahan ajar dan pengembangan sistem pembelajaran
Dengan demikian Sistem Pendidikan akan berubah dari bentuk " Substansi " ke bentuk " Sistem ". Dengan berubahnya kurikulum ( substansi ke sistem ) akan berubahlah Sistem Pendidikan, yang akhirnya terjadi " REFORMASI PENDIDIKAN " dari bentuk substansi ke sistem.



Senin, 26 April 2010

PSIKOMOTORIK SEORANG GURU

Ranah psikomotorik merupakan bagian terpenting didalam kegiatan pembelajaran, khususnya yang berhubungan dengan “ body languase “ atau bahasa tubuh yang sangat membantu kelancaran dan keberhasilan didalam mewujudkan apa yang tertuang didalam tujuan pembelajaran.

Guru berasal dari bahasa Jawa, gu berasal dari kata “ digugu “ ru berasal dari kata “ ditiru “. Jadi guru adalah kepanjangan dari digugu lan ditiru, digugu mempunyai makna setiap apa yang dikatakan guru diakui kebenarannya, dan ditiru bermakna semua sikap dan tindak tanduk guru akan dicontoh dan ditauladani.
Guru adalah seorang yang diakui kebenaran setiap ucapan atau kata-katanya dan menjadi contoh tauladan dilingkungannya. Oleh karena itu setiap guru harus professional dan menguasai bidang keilmuannya dan bermoral tinggi dimata siswanya, rekan sejawatnya dan lingkungan sekitarnya.
Menurut Ki Hajar Dewantoro : “ guru harus berpedoman kepada tiga sikap, yaitu ing ngarso sung tulodo, ing madyo mangun karso, tut wuri handayani, “ artinya didepan harus menjadi contoh teladan yang baik, ditengah harus dapat membangun semangat dan memberi penguatan yang kuat, dan dibelakang dapat mendorong lajunya pembangunan. Dengan demikian guru sebagai figure sentral didalam kegiatan pembelajaran dapat mewujudkan cita-cita bangsa menciptakan generasi muda yang tangguh dan siap menghadapi kemajuan jaman.
Selain kognitif dan afektif, seorang guru memiliki ranah pembawaan sejak lahir yang tidak kalah pentingnya didalam menciptakan kesuksesan kegiatan pembelajaran. Ranah tersebut adalah ranah psikomotorik, yang berfungsi untuk menggerakkan semua anggota badan dalam hubungannya dengan keinginan, hasrat dan dalam rangka mensukseskan membentuk dan mewujudkan tujuan pembelajaran, membentuk dan mewujudkan pembelajaran optimal.
Ranah psikomotorik terdiri dari :
1. Gerak otot ( dasar ).
2. Gerak bertujuan dengan belajar.
3. Gerak untuk berkomunikasi.
Ketrampilan guru didalam kegiatan pembelajaran adalah :
1. Ketrampilan membuka dan menutup pelajaran.
2. Ketrampilan menjelaskan materi pelajaran.
3. Ketrampilan bertanya dan memancing pertanyaan.
4. Ketrampilan reinforce ( penguatan / motivasi ).
5. Ketrampilan mengelola kelas.

Ketrampilan guru didalam kegiatan pembelajaran mempunyai hubungan yang sangat erat dengan kemampuan ranah psikomotorik yang dimilikinya. Dengan kemampuan gerak dasar ( otot ), gerak yang bertujuan dengan belajar dan gerak untuk berkomunikasi, guru dapat menyempurnakan kegiatan pembelajaran.

Hubungan ranah psikomotorik dengan ketrampilan pembelajaran :
1. Bagaimana sikap guru didalam membuka dan menutup mata pelajaran.
2. Bagaimana sikap guru dalam menjelaskan materi pelajaran.
3. Bagaimana sikap guru dalam bertanya dan memancing pertanyaan.
4. Bagaimana sikap guru dalam memberikan reinforce ( penguatan / motivasi ).
5. Bagaimana sikap guru dalam pengelolaan kelas.

Tentunya banyak kendala yang harus diperhatikan guru didalam bersikap, sebab perkembangan anak didik didalam pertumbuhan dan pendewasaan jiwa dan raganya sangat tergantung kondisi alam sekitarnya, baik itu lingkungan hidup atau lingkungan mati, termasuk sikap guru yang sangat berpengaruh sekali terhadap pertumbuhan kedewasaannya. Itulah alunan nada yang diberikan kepada predikat guru ” digugu lan ditiru ”, kalau salah dalam bersikap maka akan membahayakan terhadap pertumbuhan dan kedewasaan anak didik didalam perkembangannya.

1. Sikap guru didalam membuka dan menutup pelajaran.
Membuka pelajaran diartikan dengan perbuatan guru untuk menciptakan suasana siap mental dan menimbulkan perhatian siswa agar terpusat pada apa yang akan dipelajari. Menutup pelajaran adalah kegiatan guru untuk mengakhiri kegiatan inti pelajaran, maksudnya adalah memberikan gambaran menyeluruh tentang apa yang telah dipelajari siswa, mengetahui tingkat pencapaian siswa, dan tingkat keberhasilan guru dalam proses belajar mengajar.
Itulah sikap yang benar seorang guru didalam membuka dan menutup mata pelajaran, selain kegiatan pada umumnya didalam kelas dimulai dari, menertipkan siswa, mengisi daftar hadir, menyiapkan alat-alat pengajaran dan buku-buku yang akan dipakai, salam dan berdo’a.

Dengan demikian siswa termotivasi dan mengetahui apa yang akan dipelajari, batas-batas materi yang akan dikerjakan, menghubungkan fakta-fakta, dan menghubungkan dengan pengalaman-pengalaman yang pernah dia alami.

2. Sikap guru didalam menjelaskan materi pelajaran.
Didalam memberikan penjelasan kepada siswa guru harus dapat menyampaikan secara rasional, dan keterkaitan hubungan antara konsep-konsep dan fakta, serta sebab-sebab mengapa keadaan itu terjadi. Gambaran yang diberikan harus jelas dan sejelasnya, sehingga guru diharuskan untuk menambah pengetahuan diluar stimulus yang ditulis didalam materi pelajaran, bisa dari fakta kongkrit dilapangan, atau pengalaman yang dialami.

Didalam memberikan penjelasan kepada siswa, diharapkan siswa untuk mengerti dalam arti siswa dapat mengembangkan daya nalarnya terhadap kejadian-kejadian, konsep-konsep, dan hubungan didalamnya, bukan doktrinasi yang menekan.

Beberapa komponen yang perlu dijelaskan :
a. Kejelasan tujuan, bahasa dan proses penjelasan.
b. Memberikan penekanan dengan cara variasi dalam gaya mengajar ( variasi suara, mimik ) dan membuat struktur sajian dalam bentuk suatu kerkaitan yang jelas dengan model akar.
c. Memahami tingkah laku siswa, memberikan kesempatan siswa apakah penjelasan yang diberikan bersifat bermakna atau tidak.



3. Sikap guru didalam bertanya dan memancing pertanyaan.
Sebelum mengajukan pertanyaan seorang guru diharapkan memberikan gambaran tentang pokok permasalahan, dan didalam mengajukan pertanyaan diharapkan respon yang didapat dari siswa adalah respon yang umum selanjutnya diubah kedalam permasalahan yang sempit melalui duskusi.

Beberapa syarat didalam memberikan pertanyaan :
a. Pertanyaan harus diucapkan dengan jelas dan singkat.
b. Memberikan kesempatan berfikir kepada siswa dalam beberapa waktu, sebelum siswa menunjukkan respon dari pertanyaan.
c. Bagi siswa yang mengalami kesulitan merespon pertanyaan, guru diharapkan mengatur strategi dengan jalan mengungkapkan pertanyaan lain yang lebih sederhana, atau mengulangi penjelasan-penjelasan sebelumnya.
d. Sebaiknya kata tanya yang diberikan disesuaikan dengan tujuan perkembangan kognitif siswa, seperti sebutkan untuk hafalan, bagaimana pendapat kamu untuk pemahaman, apa bedanya untuk analisis, ceritakan untuk sintesa dan lain-lain.

4. Sikap guru didalam reinforce ( motivasi / penguatan ).
Didalam memberikan reinforce ( motivasi / penguatan ) sebaiknya dilakukan dengan penuh kehangatan dan keantusiasan, menghindari respon negative, dan bermakna bagi kepentingan siswa.


Beberapa komponen didalam memberikan reinforce.
a. Pujian ( penguatan verbal ), berupa kata-kata yang diucapkan guru, seperti
: baik, bagus, tepat, saya sangat menghargai pendapatmu, pikiranmu sangat
cerdas, dan sebagainya.
b. Dalam bentuk mimic, gerakan wajah atau anggota badan yang dapat memberikan kesan kepada siswa ( penguatan gastural ), seperti : mengangkat alis, kerlingan mata, tepuk tangan, anggukan dan lainnya.
c. Dengan cara mendekati siswa untuk menyatakan perhatian guru terhadap pekerjaan, tingkah laku, atau penampilan siswa.
d. Dengan memberikan sentuhan, memberikan penghargaan kepada siswa dengan cara menepuk pundak, berjabat tangan, atau mengangkat tangan siswa.

5. Sikap guru didalam pengelolaan kelas.
Pengelolaan kelas bertujuan untuk pembelajaran optimal, hal ini akan tercapai apabila guru mampu didalam mengatur siswa, sarana pengajaran dan mengendalikan suasana pengajaran yang menyenangkan. Pengandalian mengajaran sangat berkaitan dengan sistem instraksional, sehingga guru perlu untuk mengkondisikan suasana belajar agar tidak terjadi gangguan terhadap belajar mengajar, walaupun sifatnya sementara.

Beberapa komponen didalam pengelolaan kelas :
a. Menunjukkan sikap tanggap, sehingga siswa merasakan guru hadir bersama mereka dan tahu apa yang mereka perbuat.
b. Membagi perhatian yang efektif, baik secara visual ( tingkah laku ) dan verbal ( kata-kata ).
c. Memusatkan perhatian kelompok, dengan harapan mempertahankan perhatian sesama teman, menyiagakan siswa didalam kerja sama, dan menuntut tanggung jawab.
d. Memberikan petunjuk-petunjuk yang jelas serta menegur dengan cara yang baik ( santun ).

Apabila kelima sikap motorik seorang guru didalam kegiatan pembelajaran, baik pada waktu membuka dan menutup pelajaran, menjelaskan, memberikan reinforce, bertanya dan memancing pertanyaa, serta pengelolaan kelas dilakukan dengan benar, maka kelancaran proses belajar mengajar akan terjadi dan kegiatan pembejaran akan tertip tidak akan ada gangguan. Selain itu akan menimbulkan kesan yang menyenangkan baik antara siswa dengan siswa, siswa dengan guru, dan lingkungan, sehingga pembelajaran optimal akan terbentuk, tentunya untuk mencapai kondisi yang sempurna perlu adanya pembelajaran, memperbaiki kekurangan dan meningkatkan yang sudah benar.

Kamis, 22 April 2010

MANAJEMEN KESISWAAN


MANAJEMEN KESISWAAN
Oleh : Ir. Nanang Hariyanto, MA. Guru Pembina Pertanian SMP N I Prigen

Semua kegiatan disekolah pada akhirnya ditujukan untuk membantu siswa mengembangkan dirinya. Upaya itu akan optimal jika siswa sendiri secara aktif berupaya mengembangkan diri, sesuai dengan program-program yang dilakukan sekolah. Oleh karena itu sangat penting untuk menciptakan kondisi agar siswa dapat mengembangkan diri secara optimal. Sebagai pemimpin disekolah, kepala sekolah memegang peran penting dalam menciptakan kondisi tersebut.

I. Prinsip-prinsip Dasar Manajemen Kesiswaan :
a. Siswa harus diperlakukan sebagai subyek dan bukan obyek, sehingga harus
didorong untuk berperan serta dalam setiap perencanaan dan pengambilan
keputusan yang terkait dengan kegiatan mereka.
b. Diperlukan wahana kegiatan yang beragam, agar setiap siswa memiliki wahana untuk berkembang secara optimal. Hal ini karena siswa sangat beragam baik ditinjau dari kondisi fisik, kemampuan intelektual, social ekonomi, minat dan bakat.
c. Siswa hanya akan termotivasi belajar, jika mereka menyenangi apa yang diajarkan.
d. Pengembangan potensi siswa tidak hanya menyangkut ranah kognitif, tetapi juga ranah afektif dan psikomotorik.


II. Tugas Kepala Sekolah Dalam Memanajemen Kesiswaan :
Sebelumnya perlu diketahui, meskipun ada wakil kepala sekolah bidang kesiswaan, kepala sekolah tetap memegang peran sangat penting, karena keputusan akhir setiap kegiatan ada pada kepala sekolah. Tugas kepala sekolah ( dibantu wakil kepala sekolah bidang kesiswaan meliputi :
a. Penerimaan siswa baru.
b. Pembinaan siswa disekolah.
c. Pemantapan program kesiswaan.
III. Tugas Kepala Sekolah Dalam Penerimaan Siswa Baru :
a. Perencanaan Daya Tampung.
Menjelang tahun ajaran baru, sekolah perlu menghitung ulang daya tampung sekolah, dan menentukan jumlah siswa baru yang akan diterima. Cara dan format isian daya tampung terdapat dalam buku Petunjuk Administrasi Sekolah. Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam perencanaan daya tampung adalah :
1. Jika besar ruang belajar bervariasi harus diperhitungkan secara rinci daya tampung setiap kelas.
2. Dalam menghitung daya tampung setiap kelas harus diperhatikan kondisi belajar siswa dan disesuaikan dengan aturan yang berlaku.
b. Seleksi Calon Siswa Baru.
Hal-hal yang perlu diperhatikan sekolah dalam seleksi calon siswa baru, yaitu :
Penerimaan siswa baru merujuk kepada Keputusan Dirjen Disdasmen tentang Penerimaan Siswa Baru.

IV. Pembinaan Siswa Baru :
Beberapa hal yang perlu diperhatikan didalam pembinaan siswa baru :
a. Cara Pengelompokan Siswa.
Pengelompokan siswa yang paling awal adalah pengelompokan dalam kelas, ketika siswa mulai mengikuti pelajaran.
Ada dua cara pengelompokan dikelas :
1. Pengelompokan Homogen .
Cara ini memudahkan guru dalam pengelolaan belajar mengajar, tetapi proses sosialisasi dikelas menjadi berkurang. Jika pola ini dilakukan , sekolah harus merancang wahana untuk proses sosialisasi diluar kelas, serta mengontrol pelaksanaannya.
2. Pengelompokan Heterogen.
Cara ini memudahkan siswa bersosialisasi dikelas, tetapi guru perlu menerapkan strategi pembelajaran yang efektif untuk kondisi kelas heterogen.


b. Kenaikan Kelas.
Kenaikan kelas harus dilakukan berdasarkan aturan yang berlaku secara konsisten. Menaikkan siswa yang seharusnya tidak naik akan menyulitkan si anak yang bersangkutan , guru, maupun sekolah. Kepala sekolah perlu meyakinkan hali ini kepada guru, orang tua siswa, maupun pihak lain yang terkait.

c. Penentuan Program.
Penentuan program harus dilakukan berdasarkan bakat dan minat siswa. Untuk itu perlu diperlukan :
1. Tes bakat atau cara lain untuk dapat mengetahui kecenderungan bakat siswa .
2. Meyakinkan siswa dan orang tua siswa, bahwa penentuan program dimaksudkan untuk menempatkan siswa sesuai dengan minat dan bakat, bukan berdasarkan peringkat nilainya.

d. Pembinaan Disiplin.
Disiplin merupakan salah satu modal utama pengembangan sekolah. Oleh karena itu sejak awal, pembinaan disiplin harus menjadi perhatian kepala sekolah. Bagaimana cara membina disiplin dapat dibaca pada Bab. XVIII ( Membentuk Disiplin Sekolah ).

e. Kegiatan Ekstrakurikuler.
Kegiatan ekstrakurikuler sangat bermanfaat bagi siswa khususnya untuk pembinaan kepemimpinan, keagamaan, kepekaan social, pembinaan bela Negara dan sebagainya. Setiap siswa sebaiknya diwajibkan paling tidak ikut satu kegiatan ekstrakurikuler, agar memperoleh kesempatan mengembangkan diri.

Kepala sekolah dapat melakukan :
1. Identifikasi kegiatan ekstrakurikuler yang akan dilaksanakan disekolah.
2. Menunjuk coordinator untuk setiap kegiatan.
3. Meminta setiap coordinator untuk menyusun program kerja yang akan menjadi bagian dan rencana kegiatan sekolah.
4. Memantau pelaksanaannya.
V. OSIS ( Organisasi Siswa Intra Sekolah ).
Perlu dipahami bahwa kegiatan ekstrakurikuler biasanya dikaitkan dengan kegiatan OSIS, artinya meskipun gagasan awal kegiatan tersebut datangnya dari pimpinan, pelaksanaannya dilakukan oleh OSIS.
Beberapa langkah dalam membina OSIS :
a. Mengkoordinasikan dengan guru mata pelajaran dan wali kelas. Hal ini untuk menghindari kegiatan yang tumpang tindih dengan kegiatan pembelajaran dikelas.
b. Memberikan kesempatan kepada siswa untuk belajar mengurus kegiatannya sendiri. Hal ini sangat penting untuk melatih siswa bertanggung jawab dan mengurus dirinya sendiri.
c. Menggalang kerjasama dengan unit pembinaan pemuda diluar sekolah, misalnya Kwartir Pramuka, Palang Merah Indonesia, dan sebagainya.
d. Melibatkan orang tua. Orang tua perlu diajak berpartisipasi dalam kegiatan OSIS, khususnya yang memiliki tugas atau minat yang relevan.

VI. Tugas Kepala Sekolah Terhadap Kegiatan OSIS.
Kepala sekolah sangat berkepetingan dengan paemantapan program kesiswaan, karena pelaksanaan sehari-hari program tersebut dilakukan oleh banyak staf dan kegiatannya sangat bervariasi . Untuk pemantapan program perrlu dilakukan langkah-langkah :
a. Rapat koordinasi secara periodik.
Misalnya setiap cawu sekali dilakukan rapat koordinasi bidang kesiswaan. Pada rapat tersebut dibahas status pelaksanaan setiap program kesiswaan, sehingga dapat diketahui kemajuan maupun hambatan yang terjadi.
b. Evaluasi keberhasilan program.
Setiap akhir tahun pelajaran dilakukan evaluasi terhadap kegiatan kesiswaan, sehingga diketahui tingkat keberhasilan sesuai dengan tujuan semula. Hasil evaluasi itu sangat penting untuk menentukan kebijakan dalam menyusun kegiatan kesiswaan tahun berikutnya.

( Anonim, MANAJEMEN SEKOLAH, Departemen Pendidikan Nasioanal )

SISTEM INSTRAKSIONAL


SISTEM INSTRUKTIONAL
Oleh : Ir. Nanang Hariyanto, MA. Guru Pertanian SMP Negeri I Prigen


Sistem Instructional, adalah suatu kondisi yang saling berkaitan satu komponen dengan komponen instructional pembelajaran didalam Proses Belajar Mengajar . Komponen-komponen tersebut adalah :
1. Isi yang terkait didalam Pelaksanaan Pembelajaran
2. Isi Standar Ketuntasan KTSP sesuai dengan ketentuan.

Bila ditinjau dari pelaksanaan pembelajaran, maka didalam proses belajar mengajar, seorang guru mentranfer pembelajaran kepada siswa dengan berpedoman komponen-komponen yang saling terkait didalamnya, dengan tujuan agar tujuan standar kompotensi tercapai, tujuan kompetensi dasar tercapai, dan tujuan instructional tercapai, sesuai dengan ketentuan stnadart ketuntasan KTSP ( 74,6 ). Pembelajaran dikatakan sukses apabila nilai dari siswa setelah proses belajar dari tes formatif > 74,6 yang berarti siswa telah tuntas didalam peguasaan materi pelajaran.

A. Instruktional :
1. Pelaksanaan Pembelajaran :
Diskripsi Mata Pelajaran :
Tujuan : Mengenal bagaimana perkembangan agribisnis di Indonesia, dan bergerak
dibidang apa saja.

Standar Kompetensi :
I. Siswa memahami tentang bagaimana perkembangan agrobisnis di Indonesia.

Kompetensi Dasar :
1. Siswa mempelajari perkembangan agrobisnis di Indonesia.

Proses Belajar Mengajar ( PBM ) :
Strategi Pembelajaran : Pendekatan Klasikal, Pendekatan Individual,Pendekatan Konsep dan Komunikasi, Pendekatan experimen.

Metode Pembelajaran : Belajar Aktif ( Tutor Sebaya ).

Model : Consepsentense
Tehnik Pembelajaran :
1. Guru menyampaikan kompetensi yang ingin dicapai.
2. Guru menyajikan materi secukupnya.
3. Guru membentuk kelompok yang anggotanya + 4 orang secaraheterogen.
4. Menyajikan beberapa kata kunci sesuai materi yang disajikan.
5. Tiap kelompok disuruh membuat beberapa kalimat dengan tujuanmenggunakan minimal
4 kata kunci setiap kalimat.
6. Hasil diskusi kelompok, didiskusikan lagi secara pleno yang dipandu guru.
7. Kesimpulan



Texbook :
Lembar Literatur
Kompetensi “ Pengantar Agrobisnis “
Penilaian :
Lembar Evaluasi , 5 soal uraian
Score : 20 / butir
Score Total ; 100
Target Ketuntasan :
X ( Rata-rata SKBM, KKM, TPK ) > 74,6
PAN, persentasi ( % ) , actual > 6,0

Pelaksanaan pembelajaran diawali dengan kegiatan :
Kegiatan Awal :
Kegiatan pendahuluan, mengapresiasikan ktrampilan membuka pelajaran, yang dimulai dengan doa dan salam, selanjutnya apersepsi keterkaitan materi pelajaran terdahulu. Kegiatan ini diperkirakan memakan waktu 10 menit ( 10’), kegiatan ini merupakan sesuatu yang sangat essensial didalam instructional, sebab bila 10 menit awal pelajaran ini salah mengarahkannya, maka akan berakibat salah seterusnya, tetapi bila 10 menit ini baik dan benar mengarahkannya, baik ditinjau dari kondisi siswa, materi pelajaran, sikap, dan kesiapan, maka akan terjadi kegiatan instructional yang benar.
Selain itu guru juga menentukan kelompok belajar yang terdiri dari + 4 siswa, dan memitivasi agar terbentuk komunitas belajar, dengan system tutor sebaya, tanpa ada yang dirugikan dan diuntungkan.
Alokasi waktu, 10 menit untuk kegiatan pendahuluan, 70 menit untuk kegiatan inti, dan 10 menit untuk kegiatan penutup. Kegiatan ini sangat penting sekali, ketepatan waktu dari tiap-tiap kegiatan akan memperlancar proses pembelajaran.
Kegiatan Inti :
Kegiatan ini berisi berbagai macam ketrampilan yang harus dikuasai guru didalam kegiatan pembelajaran, tetapi didalam model pembelajaran Lesson Study, guru tidak harus memfasilitasi siswa secara keseluruhan, guru hanya memberikan prosedur kerja, selanjutnya siswa yang aktif untuk menyelesaikan prosedur tersebut. Prosedur kerja diberikan oleh guru agar kegiatan pembelajaran terarah dan tidak melantur kemana-mana.
Dari 70 menit waktu yang diberikan untuk kegiatan inti, hampir seluruhnya untuk siswa, guru hanya melayani dan mefasilitasi prosedur kerja, dan apabila ada permasalahan yang dihadapi siswa. Guru boleh bertanya atau beraplikasi apabila terjadi kevakuman didalam kegiatan pembelajaran, agar siswa memahami persoalan yang dihadapi, dan selanjutnya guru mengevaluasi hasil diskusi siswa dengan tes formatif untuk melihat hasil belajarnya, dengan ketentuan ketuntasan target ketuntasan KTSP.
Kegiatan Penutup :
Kegiatan ini merupakan akhir pembelajaran, dimana guru memberikan kesimpulan dan meringkas pelajaran, selanjutnya ditutup dengan salam.

Standar ketuntasan KTSP, merupakan standar yang menentukan ketuntasan siswa didalam kegiatan pembelajaran. Apabila hasil tes formatif siswa > standar ketuntasan KTSP, maka siswa dikatan tuntas, apabila tidak maka perlu diremidi.
Standar ketuntasan ini, merupakan hasil rata-rata nilai SKBM ( Standar Ketuntasan Belajar Minimal ), KKM ( Kriteria Ketuntasan Minimal ), dan TPK ( Tingkat Penguasaan Kompetensi ), dari masig-masing indicator yang terdapat didalam materi pelajaran. Selanjutnya nilai standar ini dipakai sebagai standar ketuntasan belajar siswa dan keberhasilan guru didalam kegiatan pembelajaran.

B. Kondisi Instructional :
1. Fasilitator.

Guru sebagai fasilitator adalah membantu siswa yang kurang memahami materi pelajaran dan konsep-konsep pemahaman bahan ajar, serta membantu jalannya komunitas belajar baik secara individual atau kelompok belajar didalam kegiatan tutor sebaya. Pada dasarnya fungsi guru yang sebenarnya adalah pembantu, artinya membantu siswa untuk membangkitkan “ ranah kognitif “ yang ada didalam diri siswa pada khususnya dan “ ranah afektif serta ranah psikomotorik “ pada umumnya. Memang pada dasarnya didalam kegiatan pembelajaran porsi peningkatan intelektual siswa adalah sama, yaitu ranah kognitif, afektif dan psikomotorik, untuk menciptakan manusia yang cerdik pandai , beriman dan bertagwa, sesuai dengan tujuan penbdidikan nasional IPTEKS ( Ilmu Pengetahuan Tehnologi dan Kesenian ) dan IMTAQ ( Iman dan Taqwa ). Tetapi kenyataannya didalam kegiatan pembelajaran sebagian besar hanya ranah kognitif saja yang tersentuh, ini bahaya, sekali lagi ini bahaya, sebab menciptakan manusia yang cerdik pandai, tanpa didasari iman dan taqwa, akan berakibat fatal bila imannya tidak kuat nanti.
Sebagai harapan kepada guru BK ( Bimbingan Konseling ) lah harapan guru-guru agar anak dididik, dibimbing dengan dasar iman dan taqwa yang kuat agar menjadi manusia yang berbudu luhur, iman yang kuat dan selalu ingat kepada Alloh SWT bertawakkal didalam hidupnya. Sebab dengan bekal iman dan taqwa insya Alloh manusia akan selamat dunia akherat.
Kembali kepada fungsi fasilitator, guru harus jeli didalam pengawasan kegiatan pembelajaran, baik kepada siswa secara individual atau klasikal, sejak awal pembelajaran, pembagian tugas sampai selesai.
- Apabila ada siswa yang kondisinya merasa tertekan dari mimik raut mukanya, maka guru secepatnya membantu kekurang tahuannya, atau kondisi tekanannya.
- Apabila ada kelompok belajar yang yamai guru membantu mengatasi agar kondisi belajar menjadi aktif.
- Apabila ada siswa yang bertanya guru wajib menjelaskan sejelas-jelasnya sampai siswa dirasakan faham.
- Dll.
Dengan demikian suasana pembelajaran akan berjalan dengan baik, guru tak perlu menggurui, tak perlu menjelaskan sampai sedetil-detilnya, biar siswa yang mengembangkan cara berfikirnya, mengembangkan ranah kognitifnya untuk memahami materi sedalam-dalamnya.

2. Komunikator.
Komunikator guru sebagai pembicara didalam kelas didalam proses belajar mengajar. Agar kuminikasi bisa lancar searah, dua arah, ataupun banyak arah, maka :
1. Suara lemah dan lembut serta halus.
2. Suara harus dapat didengar oleh seluruh siswa didalam ruang kelas.
3. Suara harus jelas dan tegas.
4. Suara tidak perlu bertele, tetapi singkat dan jelas.
5. Pokok permasalah harus tersampaikan dengan jelas.
6. Diharapkan mendapat respon positif dari siswa.
7. Posisi berbicara sebaiknya pada keadaan yang dapat didengar oleh seluruh siswa.

Dengan mengambil formasi yang tepat maka proses komunikasi, baik searah, dua arah, ataupun banyak arah akan terlaksana dengan sebaik-baiknya, sehingga membantu jalannya kegiatan pembelajaran.


C. Setting Tempat Duduk :
1. Model Berbanjar .

2. ModelTapal Kuda
3. Model Huruf U.

Baik setting tempat duduk, posisi berbanjar, posisi tapal kuda, dan posisi huruf U, siswa berhadap-hadapan pada saat melakukan belajar kelompok ( tutor sebaya ), sesuai dengan kelompok belajarnya. Agar suasana belajar dapat hidup maka setiap kelompok belaja

Rabu, 14 April 2010

KEBIJAKAN YANG MEMPERDAYA


Sudah selayaknya seorang guru harus membuat perangkat pembelajaran dalam bentu sistem pembelajaran dan sistem instraksional dalam rangka mempersiapkan kegiatan pembelajaran. Tentunya tidak semudah apa yang dikata, tetapi harus proporsional dan sangat erat sekali dengan kondisi materi pelajaran, dari tingkat essnsial, kerumitan dan kemampuan siswa. Dengan melihat kondisional materi pelajaran guru dapat membuat perangkat dengan sebenar-benarnya.
Semua kegiatan ini adalah wewenang mutlak guru sebagai pemegang mata pelajaran, kebijakan yang harus dapat dipertanggung jawabkan, dan sangat signifikan dengan keberhasilan mutu hasil anak didik baik secara keilmuan, moral dan sosial masyarakat sebagai bekal kehidupannya.

Didalam kegiatan pembelajaran terjadi proses pertemuan antara konsep-konsep materi pelajaran, konsep-konsep yang terkandung didalam tujuan pembelajaran dan konsep pemikiran siswa sebagai pebelajar. Diantara ketiga konsep itu guru sebagai figur sentral yang menjembatani pertemuannya dengan tujuan agar proses belajar mengajar mencapai target sesuai dengan ketentuan dan belajar optimal. Oleh karena itu diperlukan suatu kebijakan yang benar didalam pemilihan komponen-komponen pembelajaran, baik sistem pembelajaran dan sistem instraksionalnya, agar guru tidak terpedaya oleh kebijakan yang telah dibuatnya sendiri. Seolah-olah benar dan dapat diapresiasikan dengan benar didalam kegiatan pembelajaran, tetapi sebenarnya tidak mengena sama sekali terhadap fungsi pemahaman siswa didalam menangkap stimulus yang diberikan guru kepada siswa. Sebenarnya kita terpedaya oleh kebijakan kita sendiri, yang ternyata tidak dapat menjembatani konsep ilmiah materi pelajaran, tujuan pembelajaran dan konsepsi siswa, betapa naifnya pekerjaan yang sia-sia.

Kegiatan MGMP ( Musyawarah Guru Mata Pelajaran ) adalah sangat mutlak diperlukan, dengan musyawarah dari beberapa guru mata pelajaran didalam membuat kebijakan perangkat yang dapat dijadikan jembatan yang sangat baik dan benar untuk ketiga konsep yang terkandung didalam materi pelajaran, tujuan pembelajaran dan konsepsi siswa, maka akan membantu memperlancar jalannya proses kegiatan pembelajaran dan kepiawaian guru dalam mengajar.

Pertimbangan Kebijakan Dalam Kegiatan Pembelajaran :
1. Memahami karakteristik siswa dari aspek fisik, sosial, moral, emosional, kultural dan intelektual.
2. Memahami teori-teori dan prinsip-prinsip pembelajaran yang mendidik.
3. Memahami keterkaitan antara perangkat pembelajaran, khususnya strategi dan pendekatan, metode dan model harus disesuaikan dengan kondisi materi pelajaran dan kemampuan siswa.
4. Memahami berapa Komponen Dasar ( KD ) dalam satu kali tatap muka, agar tercapai target ketentuan ketuntasan belajar.
5. Memahami berapa kali sebaiknya Ulangan Harian ( UH ) dalam satu semester dan bagaimana bentuk tes formatif setelah kegiatan tatap muka harus dibuat sebaik mungkin untuk mengetahui hasil belajar siswa.
6. Memahami kondisi ruangan sebagai tempat pembelajaran didalam menentukan keberhasilan pembelajaran.

Dengan mengacu kepada keenam point diatas, guru dapat memilih strategi pendekatan apa yang dipakai didalam kegiatan pembelajaran. Selanjutnya metode apa yang sebaiknya dipakai, ceramah atau belajar aktif, serta model pembelajaran apa yang paling tepat.

Akibat Kesalahan Mengambil Kebijakan Dalam Kegiatan Pembelajaran :
1. Kegiatan pembelajaran terjadi tetapi tujuan dan target ketuntasan tidak tercapai optimal.
2. Kemungkinan besar akan salah memotifasi dan memberi penguatan yang berakibat fatal bagi prestasi belajar siswa.
3. Siswa tidak dapat memahami secara optimal penjelasan yang dilakukan oleh guru mata pelajaran.
4. Kegiatan pembelajaran telah memperdaya kita, seolah-olah sudah benar tetapi malah berakibat kerancuan konsep yang tertanam kedalam siswa.

Kebijakan didalam membuat perangkat pembelajaran yang tepat sangat diperlukan, kebijakan yang salah akan memperdaya kita sebagai guru mata pelajaran, dan akhirnya kita semua rugi, baik siswa, lembaga dan kelangsungan hidupnya.

MEMBANGUN KOGNITIF, AFEKTIF, DAN PSIKOMOTORIK DENGAN DIAM


Diam itu sendu, diam itu menarik, dan diam itu lebih baik. Itulah arti diam yang sering didendangkan orang didalam alunan senja kehidupan dan perjalanan sang insan. Tetapi yang dimaksud disinibukan diam sembarang diam seperti diamnya alunan senja kehidupan, tetapi diam yang membangun, diam yang memotifikasi, diam yang memberi penguatan, kepada siswa anak didik didalam kegiatan pembelajaran.
Kalau kita lihat lautan, kalau kita lihat rembulan, kalau kita lihat matahari semua diam, tetapi didalam lubuk hati yang paling dalam timbul sejuta pertanyaan, bahkan berjuta-juta pertanyaan akan diamnya lautan, rembulan dan matahari. Begitu juga yang diharapkan didalam kegiatan pembelajaran, dengan diamnya guru diharapkan timbul berbagai pertanyaan dari anak didik akan ketidak tahuan, akan sejuta misteri yang ada didalam hati mereka, ketika melihat, mengamati, dan mempelajari materi pelajaran yang dikemas didalam LKS ( Lembar Kerja Siswa ).
Guru cukup memberikan stimulus materi pelajaran yang merupakan kunci pokok materi berupa judul materi pelajaran, pokok bahasan ( Standar kompetensi ) dan sub pokok bahasan ( Kompetensi Dasar ) yang tercantum didalam pembahasan materi pelajaran, selanjutnya siswa dianjurkan untuk belajar sendiri terhadap konsep-konsep yang ada didalam pembahasan materi pelajaran, sesuai dengan kemampuan lognitif, afektif dan psikomotorik masing-masing siswa.

Hal-hal yang perlu diperhatikan saat diam :
1. Guru harus jeli didalam memberikan kata kunci yang berupa pokok bahasan ( Standar Kompetensi ) dan sub pokok bahasan ( Kompetensi Dasar ) didalam membahas materi
pelajaran.
2. Guru harus jeli memperhatikan kegiatan siswa, mulai dari mimik raut muka, anggota badan mereka dengan benda-benda sekitarnya.
3. Guru harus jeli memperhatikan kelompok belajar mereka yang terdiri dari 4 ( empat ) orang siswa, apakah terjadi kegiatan pembelajaran atau tidak.
4. Guru harus pandai-pandai memperlihatkan sikap yang membantu siswa untuk belajar.
5. Guru harus dapat mengawasi semua siswa didalam kelas dengan menempatkan posisi berdiri didepan kelas yang benar.
6. Guru harus mempunyai wawasan yang luas terhadap materi pelajaran, baik pengembangan pokok bahasan ( Standar Kompetensi ), pengembangan Sub pokok bahasan ( Kompetensi Dasar ) dan pengembangan Indikator.

Hal-hal yang perlu diperhatikan :
1. Guru harus dapat menjelaskan sejelas-jelasnya setiap pertanyaan yang diajukan oleh siswa, dan mengulang kembali apabila siswa belum jelas.
2. Guru harus dapat membantu apabila ada siswa yang bengong, atau memainkan benda-benda disekitar pada saat terjadi kegiatan pembelajaran didalam kelompok belajarnya ( tutor sebaya ), dengan cara memberikan beberapa pertanyaan yang menyangkut materi pelajaran atau kondisi belajarnya agar dapat belajar dengan temannya.
3. Guru harus menegur apabila ada siswa yang membuat gaduh atau keributan didalam kelompok belajarnya, selanjutnya dianjurkan untuk belajar dan terjadi kegiatan belajar kelompok.
4. Guru harus dapat membantu agar terjadi kegiatan pembelajaran didalam kelompok belajar mereka, dengan jalan memberikan tugas atau kegiatan lainnya.
5. Guru harus memperlihatkan sikap profesional didalam memberikan penjelasan didepan kelas, tegas, lugas dan tepat.

Kondisi saat diam :
Tentunya terjadi sesuatu yang sangat aneh dan mengherankan apabila ada guru yang diam membisu saat kegiatan pembelajaran, seharusnya guru memberikan ceramah yang berupa penjelasan-penjelasan yang kongkrit kondisi pembelajaran. Memang aneh tapi saat terjadi suasana " kebengongan " guru cuma memberikan pertanyaan yang santun kepada siswa " coba pelajari dan yang sulit ditanyakan ".
Saya kira itu sudah merupakan penguatan motivasi yang sangat diperlukan murid untuk belajar, dan membangkitkan semangat belajar mereka. Sehingga selanjutnya siswa tergugah untuk belajar dengan menunjukkan beberapa perubahan sikap belajar mereka. Artinya kita telah menggugah, membangkitkan kognitif, afektif dan psikomotorik mereka untuk mempelajari materi pelajaran yang dibahas didalam kegiatan pembelajaran.

Hal ini ditunjukkan :
1. Siswa mulai bertanya dengan beberapa pertanyaan materi pelajaran.
2. Siswa mulai bertanya dan belajar dengan teman sekelompoknya.
3. Mulai ada perubahan didalam kelompok belajarnya.

Selanjutnya biarkan mereka belajar didalam kelompok belajarnya dengan kemampuan kognitif, afektif dan psikomotorik mereka, selanjutnya diadakan evaluasi belajar mereka dengan mengadakan diskusi bersama dengan guru mata pelajaran. Didalam diskusi bersama ini guru harus jeli dan pandai terhadap siswa-siswa yang pandai, sangat pandai dan rendah, selanjutnya bagaimana guru dapat membantu siswa yang rendah menjadi pandai, siswa yang pandai menjadi sangat pandai dan yang sangat pandai tetap bertahan diposisinya.
Saya kira dengan kesiapan yang telah dipunyai guru sebagai guru pengajar, guru dapat membantu dan menciptakan suasana belajar yang baik, sehingga terjadi baik pembelajaran tutor sebaya ( siswa dengan siswa ) dan peer teaching ( guru dengan siswa ) baik dengan satu arah, dua arah dan banyak arah.
Saya kira dengan trik-trik yang dipunyai guru didalam diamnya, guru dapat membangun, menggugah dan membangkitkan kognitif, afektif dan psikomotorik mereka untuk belajar dengan baik. Diam dalam arti bukan menggurui, tetapi mencoba membangkitkan kognitif, afektif dan psikomotorik anak didik, baik melalui :
1. Keberanian mereka untuk bertanya.
2. Tidak takut untuk salah, sebab ada kesadaran bahwa guru akan membangun untuk membenarkannya.

Dengan demikian semoga kita semua guru-guru yang mempunyai tanggung jawab yang besar terhadap perkembangan anak didik dan masa depan mereka dapat membangkitkan semangat belajar mereka.

Rabu, 31 Maret 2010

APAKAH ANDA SIAP MENGAJAR.



Siap mengajar dalam arti siap seluruh perangkat dan sarana pembelajaran dan siap untuk melaksanakan kegiatan pembelajaran. Menurut Yamamoto :" kegiatan pembelajaran akan optimal apabila ada keaktifan kedua pihak guru dan siswa, guru siap untuk mengajar dan siswa siap untuk belajar, apabila salah satu atau dua-duanya tidak aktif dalam arti tidak siap maka pembelajaran akan gagal ".

Perencanaan:
Perencanaan yang matang dan tepat didalam kegiatan pembelajaran, biasanya dilakukan diawal semester, dimana guru wajib menentukan langkah-langkah kegiatan pembelajaran secara tepat.

Metode :
Metode yang dipakai didalam kegiatan pembelajaran tergantung kepada :
1. Tingkat essensial materi pelajaran.
artinya materi pelajaran sangat bermakna untuk pembekalan kecakapan hidup, bermakna dan bermanfaat untuk mencapai indikator lain, dan mampu mewakili indikator lain. Materi ini dikatakan sangat essensial.
2. Tingkat Kesulitan dan Kerumitan materi pelajaran.
artinya untuk memahami kompetensi memerlukan waktu yang lama, perlu penalaran dan kecermatan yang tinggi, dituntut adanya sarana dan prasarana agar kompetensi dicapai siswa.
3. Tingkat kemampuan rata-rata siswa.
tingkat kemampuan siswa berdasar atas seleksi ujian awal, atau tingkat prestasi siswa pada semester atau kelas sebelumnya.

Dari ketiga kriteria tersebut, dapat ditentukan metode apakah yang dipakai didalam kegiatan pembelajaran, metode ceramah, atau metode bebas aktif dalam arti siswa belajar sendiri secara kelompok.
Aapabila metode yang ditentukan adalah ceramah, maka guru harus pandai-pandai menampilkan beberapa ketrampilan khusus, seperti ketrampilan menjelaskan, ketrampilan bertanya, ketrampilan reinforse, dll., sedangkan apabila metode yang dipilaih bebas aktif, maka guru harus pandai memfasilitasi siswa didalam peer teaching, tutor sebaya, dan komunitas belajar.

Strategi Pembelajaran :
Strategi Pembelajaran Harus memenuhi dua opsi :
1. Observable.
Pendekatan yang dipakai harus benar-benar sudah teruji keampuhannya dan kematangannya didalam kegiatan pembelajaran. Pengujian bukan hanya satu atau duakali tetapi berkali-kali untuk mengetahui kevalitan dan hasil yang memuaskan.
2. Measureble.
Pendekatan yang dipakai harus dapat memperhitungkan dengan akurat, matang dan tepat, efektif dan efisian untuk mengetahui prestasi siswa secara benar. Dengan demikian guru dapat mengetahui mana siswa rendah, siswa pandai dan siswa sangat pandai.

Strategi pembelajaran tersusun rapi didalam sistem pembelajaran dan sistem instraksional, selain motivasi dan penguatan yang dilakukan guru pengajar. Strategi Pembelajaran tersusun rapi mulai dari program tahunan ( prota ), program semester ( promes ), alokasi waktu, rencana pelaksanaan pembelajaran, pelaksanaan pembelajaran, standar ketuntasan KTSP, tes diagnostik, analisis dan evaluasi.
Untuk metode ceramah : tersusun didalam Mekanisme Pembelajaran Kompetensi, dimana basis yang dipakai adalah basis kompetensi. Sedangkan untuk metode bebas aktif, tersusun didalam Tehnologi Pembelajaran Kompetensi, dimana basis yang dipakai adalah Lesson Study.

Motivasi dan Penguatan :
Motivasi dan penguatan adalah wujud dari pendekatan guru dalam hal :
1. Belajar Siswa.
- Siswa dianjurkan belajar kelompok dengan dibentuknya kelompok belajar.
- Motivasi tidak adanya kerugian belajar kelompok baik bagi yang pandai ataupun yang rendah.
- Motivasi dengan belajar kelompok masalah yang sulit akan terpecahkan.
- Motivasi bersatu kita teguh bercerai kita jatuh. dll.

2. Hubungan guru murid.
- Hubungan sosial yang baik, kasih sayang, tulus, ikhlas.
- Menjadi tauladan yang baik dalam sikap, intektual dan kerapian.
- Menjadi pemimpin yang baik baik didalam kelas ataupun diluar kelas.dll.

3. Keberhasilan Belajar.
- Memberi hadiah bagi yang berprestasi.
- Menunjukkan nilai hasil belajar. dll

Model Pembelajaran :
Model pembelajaran khusus untuk kegiatan Lesson Study atau metode bebas aktif.

Apabila ditinjau dari pemilihan metode, perlengkapan strategi pembelajaran, dan model pembelajaran yang tepat, maka anda sudah dapat dikatakan siap untuk mengajar, tetapi apabila sebaliknya, anda belum membuat prota, promes, Rencana Pelaksanaan Pembelajaran, Standar Ketuntasan KTSP, Tes Diagnostik, Analisis, dan Evaluasi apa yang dipakai, maka anda dapat dikatakan belum siap mengajar, yang berarti pembelajaran tidak optimal.
Oleh karena itu agar anda siap mengajar, anda harus sudah menyiapkan, baik perencanaan metode pembelajaran, strategi pembelajaran dan model pembelajaran, sehingga anda benar-benar siap untuk mengajar.

NB:
1. Gambar 1. Dokumen Opersional Mekanisme Pembelajaran Kompetensi.
2. Gambar 2. Dokumen Operasional Tehnologi Pembelajaran Kompetensi.

Senin, 29 Maret 2010

JANGAN LALAIKAN DO'A



Setiap akan melakukan aktifitas apapun selalu dan memang harus didahului dengan do'a. Karena hanya dengan kuasaNya dan rahmatNya kita semua dapat menjalankan aktifitas kegiatan tersebut. Tak luput pula dilembaga pendidikan, setiap memulaui kegiatan pembelajaran disertai doa dan salam, diakhir pembelajaran disertai doa dan salam.Kegiatan yang berupa do'a dan salam dilakukan didalam kegiatan awal, yaitu doa'a. salam dan apersepsi, dan kegiatan akhir ( penutup ).
Doa dan salam sering dan memang kebanyakan seolah-olah lepas dari kegiatan pembelajaran, dan inilah yang sering dilalaikan seorang guru, padahal do'a dan salam adalah momen yang paling penting dan essensial didalam kegiatan proses belajar mengajar. Pernahkan saudara membayangkan bahwa doa dan salam adalah bagian yang penting dari kegiatan pembelajaran ?
Pada saat dikumandangkan doa awal pembelajaran, disitulah terjadi suatu peristiwa yang sangat besar, sebab disaat itulah kita sebenarnya beraudensi, bertatap muka, berharap atas ridhoNya, kepada Yang Maha Kuasa Yang Maha Pandai Yang Maha Penyayang. Didalam hati yang paling dalam ada tetes air mata, betapa tidak bagaimana kalau Tuhan Yang Maha Kuasa tidak memberikan kasih sayangNya, IlmuNya kepada kita sebagai seorang guru, untuk melakukan kegiatan tranfer learning kepada siswa. Kita jadi buta, kita tidak bisa apa, sehingga kegiatan pembelajaran hanyalah sebuah kegiatan basabasi saja. Alangkah ruginya kita, betapa kasihannya murid, siswa kita, anak didik kita yang mengharap.
Pada saat doa itulah, hati kita yang paling dalam, memohon kepada Sang Khalik, agar dibuka pintu hati kita, pintu kognitif kita, pintu afektif kita, dan pintu psikomotorik kita agar stimulus yang kita berikan kepada siswa mendapat respon yang baik. Begitu juga didalam hati kecil kita mengharap agar siswa, anak didik dibuka hatinya, dibuka kognitif, afektif, dan psikomotoriknya agar dapat menerima stimulus yang kita berikan. Betapa bahagianya bila do'a kita dari hati yang paling dalam dikabulkan, sebab dengan dikabulkannya doa'a kita pasti kegiatan tranfer learning akan berjalan dengan baik, dan proses belajar mengajar akan mencapai optimal dan target pembelajaran tercapai.
Marilah kita sadarkan diri kita, diri siswa anak didik kita, agar selalu ingat kepada Sang Khalik, agar didalam menjalankan kegiatan pembelajaran baik secara institusional atau insidental mendapat restu dan ridhoNya. Amin.
Pada saat mengucapkan salam, disitu juga terjadi suatu peristiwa besar yang tidak kita sadari, peristiwa dimana " siswa memberikan keselamatan kepada guru, dan guru membalas memberikan keselamatan kepada siswa " semoga keselamatan tercuruh kepada guru atau siswa. Keselamatan dalam arti pikiran kita tidak terjadi kesalahan, sehingga apa yang kita berikan dapat benar dan mudah dipahami, ucapan kita benar dan mudah untuk diucapkan, sikap kita benar sehingga menyenangkan, semua butuh keselamatan, sehingga dengan demikian kita terhindarkan dari kesalahpahaman, kemacetan, dan kesalah artian yang menyebabkan kita celaka. Celakalah bagi orang-orang yang tidak mendapat keselamatan.
Mudah-mudahan kita selalu didalam lindunganNya dan keselamatan ada pada diri kita dan anak didik didik kita semua.